Close

Dokter Niko Azhari SpBTKV (K) VE FIHA Kampanyekan Peduli Varises

Bawa Aplikasi Varises Indonesia sampai Eropa

VARISES kerap dianggap remeh oleh banyak orang. Ketika memutuskan untuk berobat, kondisi mereka sudah akut.

INOVATIF: Dokter Niko Azhari SpBTKV (K) VE FIHA (dua dari kanan) bersama para mentor di kompetisi Start Up Day 2019 yang diadakan di Bern, Swiss, pada 28 Mei 2019. (Niko Azhari for Jawa Pos)

Mati langkah. Itulah yang dirasakan dr Niko Azhari SpBTKV (K) VE FIHA ketika mengetahui pasiennya datang dengan kondisi penyakit varises yang sudah parah. Saat itu seorang perempuan 70 tahun asal Jepara datang kepadanya dalam kondisi kaki yang sudah memiliki luka karena varises. Dengan kondisi tersebut, sang pasien harus menjalani operasi laser. ”Padahal, kalau penyakitnya diketahui lebih awal, tak perlu operasi,” tutur dokter yang berpraktik di RS Universitas Airlangga tersebut.

Perempuan itu hanyalah satu di antara sekian banyak pasien Niko yang datang dalam kondisi varises akut. Menurut Niko, banyak pasien yang belum teredukasi tentang varises. Banyak yang menganggap remeh penyakit tersebut.

Varises ditandai adanya pembuluh darah yang melebar dan berkelok-kelok sehingga tampak menonjol di bagian paha atau betis. Kondisi itu sering dianggap remeh oleh banyak orang sehingga mereka tidak segera memeriksakan diri.

Hal tersebut membuat Niko tergerak untuk bertindak lebih dari sekadar mengobati pasien ”Saya ingin menyelamatkan lebih banyak orang yang sakit varises,” tutur laki-laki 39 tahun itu. Cita-cita sebagai dokter bedah jantung dan pembuluh darah dia realisasikan dengan membuat start-up Varises Indonesia pada 2014.

Untuk itu, Niko yang juga pengajar di Universitas Airlangga menciptakan aplikasi Varises Indonesia yang bisa digunakan sebagai portal informasi dan menjadi pelopor kampanye peduli varises. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat bisa mendeteksi masalah gangguan peredaran darah vena. ”Lewat aplikasi itu, pasien yang tidak punya waktu untuk berkonsultasi langsung dengan dokter bisa belajar sendiri tentang segala macam hal terkait varises. Saya ingin masyarakat lebih pintar mendeteksi dini penyakitnya,” ucap ayah satu anak tersebut.

Kampanye varises juga dilakukan Niko dengan memberikan pengetahuan kepada para dokter dalam menangani varises. Misalnya, mengajarkan metode laser untuk menormalkan vena melebar yang lazim disebut endovenous laser ablation therapy (EVLT).

”Kalau dulu menangani varises harus dibedah di bagian kaki. Tapi, kalau menggunakan laser, minim sayatan,” jelas Niko. Hingga saat ini, dia sudah mengajarkan metode itu kepada sekitar 20 dokter di Jawa Timur. Dia juga menjadi anggota Varises Indonesia Leader. Besar harapannya penanganan varises di Indonesia bisa lebih baik.

Kepedulian terhadap pasien-pasien varises ditunjukkan Niko hingga mancanegara. Pada 28 Mei lalu, Varises Indonesia menjadi satu-satunya start-up di bidang kesehatan di Indonesia yang lolos untuk mengikuti kompetisi Start Up Day 2019 di Bern, Swiss. ”Di sana saya mengikuti pitching battle selama 100 detik untuk menjelaskan apa itu Varises Indonesia kepada para investor dan pebisnis,” katanya.

Saat itu dia optimistis lolos dalam kompetisi tersebut. Tetapi, ternyata para juri lebih memilih start-up kesehatan dari Swiss sebagai pemenang. Meski begitu, Niko mendapatkan mentoring dan coaching dari beberapa investor dan perusahaan kesehatan. ”Ke depan Varises Indonesia dan perusahaan penyedia alat kesehatan akan bekerja sama sehingga nanti bisa menjadi rujukan utama penanganan varises,” tegasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/tia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Vascular Indonesia
Send via WhatsApp